Tags

Isu kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) kembali marak terdengar sejak akhir tahun lalu. Alasan pemerintah untuk melakukan opsi ini karena terdesak anggaran subsidi yang membengkak. Ditambah lagi dengan faktor eksternal di mana harga minyak dunia yang kian menanjak dalam beberapa bulan belakangan. Oleh karena itu, pemerintah memilih untuk menaikkan BBM karena beban yang harus ditanggung pemerintah semakin besar.

Beberapa pengamat ekonomi di indonesia tidak mendukung untuk menaikan harga BBM karena subsidi akan memberi beban inflasi untuk jangka pendek. Namun, beberapa pakar lainnya menganggap bahwa secara jangka panjang, kenaikan harga BBM itu justru berdampak positif bagi Indonesia.

Berbagai macam alasan sedang menjanjikan oleh pemerintah salah satu adalah Alokasi anggaran subsidi BBM bisa dimanfaatkan untuk mendanai pembangunan infrastruktur.  Bila harga BBM terlalu murah maka masyarakat mengonsumsi terlalu banyak bensin. Artinya Indonesia harus mengimpor lebih banyak minyak padahal lebih baik memperbesar belanja modal untuk jangka panjang.

Rencana harga Bahan Bakar Minyak (BBM) akan melonjak pada akhir bulan maret 2012, menjadi isu yang sangat sensitif bagi kaum pemerhati kehidupan ekonomi kelas menengah bawah di Indonesia. Banyak aktivis dan mahasiswa sedang aksi unjuk rasa di berbagai daerah yang ada di pelosok Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pada 2011 lalu, Badan Pusat Statistik mengungkapkan, jumlah orang miskin di Indonesia adalah 30,02 juta jiwa. Dari jumlah tersebut, sebanyak 18,97 juta berada di perdesaan, dan 11,05 juta berada di perkotaan. Namun, data tersebut menjadi menarik jika dikaitakan dengan rencana pemerintah untuk memberikan bantuan langsung sementara (BLS) pasca-kenaikkan harga bbm. Jumlah tersebut tentu akan jauh berbeda.

Untuk menghitung hal tersebut sangatlah sederhana. Saat ini, pemerintah menyiapkan dua skenario BLS. Pertama, Rp100 ribu dan kedua, Rp150 ribu per keluarga. Besaran alokasi anggaran BLS tersebut antara Rp17 triliun hingga Rp25 triliun.

Dengan asumsi alokasi Rp17 triliun, setiap keluarga miskin memperoleh Rp100 ribu perbulan. Maka jumlah keluarga miskin akan mencapai 18.89 juta keluarga. Sementara, jika asums alokasi sebesar Rp25 triliun, dan setiap keluarga mendapatkan Rp150 ribu. Maka jumlah keluarga miskin akan menjadi 18,52 juta keluarga.

Dalam demo-demo yang sedang di lakukan oleh mahasiswa serta pemerhati kaum miskin fokus tuntutan tidak menyangkut hal-hal lain. melainkan, tuntutannya adalah pemerintah tidak boleh menaikkan sepersenpun harga BBM di indonesia. Apabila harga BBM naik maka akan mempengaruhi taraf kebutuhan masyarakat yang lainnya seperti, tarif angkotan kota akan naik dan barang dagangan lain juga akan mengikuti dinamika harga BBM.

Tuntutan utama dalam setiap aksi unjuk rasa di seluruh indonesia hampir sama, mereka menyatakan bahwa kenaikan harga BBM akan memicu kenaikan harga kebutuhan pokok dan biaya hidup. Pada akhirnya, jumlah rakyat miskin akan meningkat.

Banyak daerah terpencil di Negara Indonesia ekonominya belum meningkat secara signifikan, bahkan kemiskinan menjadi masalah utama yang hingga kini pemerintah belum menemukan solusi konkret untuk membrantas kemiskinan tersebut.

Tapi, pemerintah menganggap bawah kemiskinan merupakan masalah sepeleh, yang mudah di atasi dengan program-program pemberdayaan masyarakat. Namun, Buktinya program pemberdayaan masyarakat juga tidak mampu meningkatkan ekonomi bagi kaum miskin di indonesia.

Berbicara masalah naiknya Harga BBM, sama halnya dengan kaum pemerhati berbicara masalah kemiskinan yang kian memburuk di Negara Indonesia. Berdasarkan data yang di tampung oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Pusat, Profil kemiskinan di Indonesia maret 2011sebanyak 30,02 juta orang. Sangat ironis. Jumlah kemiskinan tersebut belum terhitung dari bulan april 2011 hingga maret 2012. Angka kemiskinan di Indonesia banyak kalangan menilai masih tinggi walaupun pemerintah mengklaim sudah berhasil menekan angka kemiskinan tersebut.

Perbandingan harga BBM di beberapa daerah terpencil di Indonesia, seperti di kabupaten wamena, Propinsi Papua harga bensin perliter sebelum BBM naik Rp 25.000. Belum lagi setelah BBM naik, pasti harga perliter berkisar dari Rp 50.000 sampai 100.000. Sangat luar biasa keputusan yang sedang di buat oleh stakhorders. Kehidupan orang kaya akan bersenang-senang di atas penderitaan rakyat miskin di Indonesia.

Sebelum keputusan tersebut di perlakukan, mestinya para petinggi perlu kaji secara komprehensif. dalam kajian tersebut perlu melibatkan berbagai elemen yang ada di Indonesia. Jika tidak melibatkan elemen yang lain, maka keputusan akan bergulir di kalangan elit politik. Akibatnya tidak ada titik temunya. Beranjak dari keputusan yang sepihak maka masalah mendasar kemiskinanpun akan meningkat di pengaruhi oleh harga BBM tersebut.

Hasil Sensus Nasional Badan Pusat Statistik telah merekam data perkembangan terbaru mengenai angka kemiskinan di Indonesia. Beberapa propinsi yang termiskin di Indonesiaantara lain meliputi Papua, Papua Barat, Gorontalo, NTT, dan Maluku.

BPS mencatat sejumlah wilayah masih menghadapi persoalan kemiskinan yang tinggi. Bahkan, angka kemiskinan yang tertinggi itu justru terjadi di wilayah dengan kekayaan sumber alam melimpah, seperti Papua dan Papua Barat. Prosentase angka kemiskinannya mencapai 34-36 persen, jauh lebih besar dibandingkan rata-rata nasional sebesar 13,33 persen.

Selain Papua, propinsi lain yang memiliki prosentase penduduk miskin tinggi adalah Maluku, Nusa Tenggara, Aceh, Bangka Belitung dan lainnya. Jumlah penduduk di propinsi-propinsi tersebut yang memang tidak sebanyak di Jawa, tetapi secara prosentase dibandingkan total penduduk di wilayah tersebut, kelompok orang miskinnya sangat tinggi.

Harga BBM melonjak kehidupan orang miskin akan melarat. Oleh karena itu, Selamatkan dulu rakyat miskin di Indonesia.

sumber:http://sosbud.kompasiana.com