Tags

Operator telekomunikasi berbasis teknologi Code Division Multiple Access (CDMA) mulai tergerus dalam peta persaingan dengan operator berbasis Global Satellite for Mobile (GSM). Apa yang harus dilakukan agar terhindar dari keterpurukan?

Seperti diketahui, pada akhir 2011 lalu, tiga operator berbasis teknologi CDMA mencatat kinerja yang suram. PT Bakrie Telecom Tbk mencatat kerugian bersih Rp 782,70 miliar, dan PT Smartfren Telecom Tbk membukukan kerugian Rp 2,4 triliun.

Sedangkan PT Telkom Tbk yang memiliki unit bisnis berbasis CDMA dengan layanan Fixed Wireless Access (FWA) berhasil mencatat omset Rp 3,5 triliun selama 2011, naik 1,3% dibandingkan 2010 sebesar Rp 3,4 triliun.

Namun sayangnya, Flexi kehilangan pelanggan sebanyak 21,6% selama 2011 dari 18,161 juta pada 2010 menjadi 14,238 juta pengguna.

Praktisi telematika Teguh Prasetya menilai, pasar nirkabel berbasis CDMA mulai susah bergerak di industri telekomunikasi karena tekanan pemain GSM yang makin efisien dalam operasional sehingga bisa menawarkan produk yang sama murahnya dengan kualitas lebih baik.

“Pemimpin pasar CDMA seperti Flexi harus bisa lebih visioner menentukan langkah ke depan jika tidak mau tertekan,” ungkapnya kepada sejumlah wartawan di Jakarta, Selasa (24/4/2012).

Menurutnya, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan oleh Telkom sebagai pemilik Flexi untuk bisa bertahan di pasar CDMA, yakni melepas unit tersebut dengan mencari mitra strategis atau dijadikan sebagai off-load dari trafik data milik Telkomsel.

Disamping itu, Flexi bisa dijadikan Mobile Virtual Network (MVNO) dengan menyasar telepon komunitas atau kawasan tertentu. Walaupun margin kecil, tapi sumber pendapatannya tetap, kata dia. “Jika tidak mau dilepas, maka sebagai off-load trafik itu paling rasional,” ujar Teguh.

Masih menurutnya, pemerintah harus secepatnya turun tangan mengatasi tekanan yang diderita oleh pemain CDMA jika tak ingin industri ini perlahan hancur.

“Kalau di perbankan, otoritasnya selalu menjaga rasio kecukupan modal. Di telekomunikasi regulator harus menetapkan rasio kesehatan industri, jika tidak memenuhi diharuskan melakukan aliansi strategis atau merger. Jangan dibiarkan mereka semua rugi triliunan rupiah dan bangkrut,” tandasnya.

sumber: http://www.detik.com