Tags

PRODUKSI PESAWAT SUKHOI JET 100

Perusahaan “Sukhoi Sipil Aircraft” (SSU), bagian dari Induk Perusahaan “Sukhoi”, dibentuk tahun 2000 untuk menciptakan model baru pesawat sipil. Pesawat Sukhoi sipil ini juga memiliki cabang di lokasi manufaktur utama. Saat ini perusahaan mempekerjakan lebih dari 1.500 karyawan. Kegiatan utama adalah pengembangan GHS dan pembuatan pesawat terbang sipil, serta pemasaran mereka, penjualan dan layanan purna jual. Saat ini, proyek utama perusahaan adalah keluarga baru dari Rusia pesawat Sukhoi daerah Superjet 100. Keluarga itu terdiri dari dua pesawat penumpang 75 dan 95 kursi dalam konfigurasi dasar – SSJ100/75B dan SSJ100/95B – dan diperpanjang – SSJ100/75LR, SSJ100/95LR.

Proyek Sukhoi Superjet 100 ini sendiri merupakan kerjasama antara Sukhoi dengan Alenia Aeronautica, sebuah perusahaan penerbangan Italia yang merupakan anak perusahaan raksasa industri penerbangan dan pertahanan, Finmeccanica. Sukhoi Superjet 100 solusi terbaik mengintegrasikan pesawat modern. Direncanakan akan disertifikasi baik oleh Rusia dan standar internasional. Seperti diketahui, karakteristik teknis dan operasional Sukhoi Superjet 100, memberikan keunggulan kompetitif dan potensi ekspor yang tinggi dari produk. Volume pasar untuk pesawat dari 1040 pesawat dihargai hingga 2027, sementara permintaan yang diproyeksikan untuk pesawat kelas ini pesawat mencapai 6100-2027.

Pesawat Sukhoi Superjet 100 ini sendiri merupakan pesawat terbaru buatan Rusia. Spesifikasi Mesin Sukoi Super jet Pesawat ini sendiri didukung mesin SaM146 turbofan baru dan dikembangkan oleh PowerJet ini merupakan satu-satunya jenis pesawat komersil yang dibuat oleh Sukhoi. Dari segi kapasitas, pesawat ini dibagi menjadi dua jenis, yakni kapasitas, 70 orang dan 98 orang. Adapun Jarak tempuh yang dapat dicapai Sukhoi Superjet 100 kapasitas 98 kursi adalah 3.279 kilometer dan 4.620 kilometer untuk versi Superjet 100-95LR.

Kecepatan maksimal pesawat yang diproduksi perdana pada 2007 itu adalah 0,81 mach (992,29 kilometer per jam) dengan ketinggian terbang maksimum 12,5 kilometer. Sedangkan berat maksimum yang dapat ditahan ketika ‘take-off’ 38.8 ton, 35 ton ketika mendarat, dan berat kosong 9,13 ton. Pesawat Sukhoi komersial terbaru ini melakukan terbang perdana pada 19 Mei 2008. Pesawat ini memiliki dimensi panjang 26,44 meter, tinggi 10,283 meter, dan lebar sayap 27,80 meter.  Pesawat yang dikendalikan oleh dua pilot itu membutuhkan landasan dengan lebar 1,803 kilometer untuk terbang.

Khusus untuk Desain Interior dalam Pesawat Sukhoi Superjet 100, kabin pesawat superjet 100 kelas bisnis terdiri dari empat kursi dalam satu baris dan kelas ekonomi terdiri dari lima kursi dalam satu baris. Dimensi lebar kabin pesawat 127,48 inci (3,22 meter), ketinggian kabin 2,12 meter, dan jarak lebar antar kursi 18,31 inci (0,47 meter).

Pesawat Terbang Sukhoi Superjet 100 Spesifikasi dan Teknologi memiliki fitur sistem kontrol elektronik ‘fly-by-wire’ yang dapat menambah dan mengurangi gigi untuk pendaratan, selain sistem rem sebagai kestabilan pesawat ketika mehanan berat. Penerbangan komersial pertama dengan pesawat ini dilakukan sekitar bulan April 2011 oleh Armavia dan menyusul Aeroflot di tahun yang sama.

Berikut Supplier Pesawat Sukhoi Superjet 100 :

Avionics : Thales
Control Systems : Liebherr
Environmental control system : Liebherr
Landing gear : Messier Dowty
Fuel System : Intertechnique (Zodiac)
Interior : B/E Aerospace
Fire protection sytem : Autronics (Curtiss Wright)
Oxygen system : B/E Aerospace
APU : Honewell
Crew seats : Ipaco
Hydraulic system : Parker

Analisis Penyebab kecelakaan Sukhoi Superjet 100 di Gunung Salak

  • Menurut Sunaryo dari PT. Trimarga Rekatama –Konsultan Bisnis Sukhoi di Indonesia, Sebelum hilang kontak, sang pilot meminta izin untuk turun dari ketinggian 10.000 kaki ke 6.000 kaki kepada menara kontrol Bandara Soekarno-Hatta. Sunaryo mempertanyakan mengapa permintaan itu dikabulkan pada koordinat itu. “Pilot minta izin turun, tetapi diizinkan,” kata Sunaryo.
  • Kemungkinan petugas Air Traffict Controller (ATC) Bandara Soekarno Hatta belum nge-trim (menyesuaikan) koordinat bumi. Mengingat dua tulisan di atas, seingat saya pemerintah dan parlemen Denmark sangat heboh akibat bergesernya koordinat bumi.
  • Sukhoi menabrak tebing Gunung Salak saat menghindari awan Cumulo Nimbus yang menjulang setinggi 37.000 kaki (11,1 km). Analisis indeks konveksi yang bisa menggambarkan ketinggian awan juga menunjukkan indeks sekitar 30 yang bermakna adanya awan Cb (Cumulo Nimbus) yang menjulang tinggi sampai sekitar 37.000 kaki (11,1 km). Data satelit itu memberi gambaran bahwa saat kejadian, pesawat dikepung awan tebal yang menjulang tinggi. Pada saat sebelum jatuh itu, diinformasikan pesawat turun dari ketinggian 10.000 kaki (3 km) ke 6.000 kaki (1,8 km), padahal tinggi gunung Salak sekitar 2,2 km.
  • Bahwa penyebab jatuhnya pesawat karena terganggu oleh sinyal telepon seluler. Analisa yang dibuat Seand Munir, yang ditayangkan Kompasiana, itu mendasarkan pada info bahwa ponsel milik dua wartawan Majalah Angkasa, Dodi Aviantara dan Didik Yusuf masih aktif selama pesawat mengangkasa.
  • Pendapat Mogomed Tolboev, salah seorang pilot terbang demo terbaik di Rusia, meyakini bahwa kecelakaan di Bogor itu lantaran kurang persiapan penerbangan. “Terbang demo itu dilakukan di kawasan pegunungan yang sangat sulit”.
  • Human Error, pilot yang menjadi komando utama di dalam pesawat melakukan kesalahan fatal dengan menurunkan ketinggian dari 10.000 kaki ke 6000 kaki
  • Kesalahan Teknis, pesawat tidak dalam kondisi ready dan kemungkinan ada beberapa bagian pada pesawat belum diaktifkan.
  • Pilot kemungkinan mengalami spatial disorientation atau disorientasi ruang dan ini bisa berhubungan dengan jet lag. Jet lag terjadi karena jam biologis kita berubah setelah melakukan perjalanan panjang dengan menembus berbagai zona waktu yang berubah. Jet lag akan mengganggu performa fisik dan psikis kita akibat berubahan jam bilogis yang mendadak tersebut. Jet lag membuat kita merasa lemas, disorientasi, kurang konsentrasi dan tidak bersemangat. Jet lag akan diperberat jika seorang kurang tidur dan kurang minum.

Berdasarkan analisis sementara di atas dapat disimpulkan salah satu kesalahan yang menyebabkan kecelakaan pada pesawat Sukhoi menurut proses pengembangan prosuk adalah masing kurangnya proses Testing and Refinement yang dilakukan pihak perusahaan produksi pesawat ini. Sehinggamasih kurangnya pengeavaluasian dari kelayakan terbang Sukhoi Super Jet 100.

sumber: http://www.kompas.com